Bismillah ar-Rahmân ar-Rahîm, “Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih dalam Keagungan-Nya, Yang Maha Pengasih dalam Kehadiran-Nya,” adalah ungkapan yang mengawali surah-surah Al-Qur’an — bab-bab Wahyu Ilahi yang diturunkan dalam bentuk kitab, teks suci, yang ditujukan untuk pembacaan ritual umat Islam. Melalui kalimat ini, umat Islam memohon kepada Yang Maha Pengasih dan manifestasi rahmat-Nya, tidak hanya saat melaksanakan shalat, tetapi juga saat bangun tidur dan memulai hari, sebelum berbagai waktu makan sebagai tanda syukur, serta dalam sapaan tradisional di antara kerabat dan anggota komunitas Islam lainnya.
Tidak dapat disangkal bahwa Allah Maha Pengasih terhadap makhluk-makhluk-Nya yang membuka diri terhadap anugerah iman dan rezeki. Segala kebaikan di langit dan di bumi sesungguhnya berasal dari Tuhan Semesta Alam, yang memenuhi kebutuhan rohani dan jasmani makhluk-makhluk-Nya sesuai dengan takaran yang sempurna yang telah ditetapkan oleh ilmu-Nya.
Namun, di atas segalanya, terdapat suatu tingkatan prinsipil yang melampaui manifestasi dan tidak mengenal realitas lain selain realitas ilahi: esensi Allah sebelum penciptaan dan terlepas dari penciptaan, sifat-sifat ilahi yang dipandang secara intrinsik, sebelum dan terlepas dari pancaran-Nya kepada makhluk-makhluk. Pada tingkat ini, Allah, Allah, adalah Maha Pengasih dalam diri-Nya sendiri dan terhadap diri-Nya sendiri, karena sifat ontologis Allah mencakup rahmat.
Pada tahap berikutnya — di mana urutannya lebih bersifat ontologis dan logis daripada kronologis —, Allah mengarahkan rahmat-Nya kepada makhluk-makhluk-Nya; rahmat itu menyinari alam semesta layaknya sinar matahari, yang menyebarkan cahaya, kehangatan, dan kehidupan ke setiap sudut dunia. Allah menjadikan laki-laki dan perempuan sebagai bagian dari pengetahuan-Nya dan penerima karunia-Nya. Namun, pria dan wanita dianugerahi tanggung jawab yang unik di dunia ini, karena mereka diciptakan menurut gambar dan rupa Allah atau, sebagaimana ditegaskan dalam tradisi Islam, “menurut bentuk Yang Maha Pengasih”. Laki-laki dan perempuan menyimpan dalam diri mereka sifat ilahi ini sesuai dengan cara mereka diciptakan, dan di dalamnya dapat dikenali dinamika rahmat ilahi, yaitu rahmat Allah terhadap diri-Nya sendiri melalui perantaraan makhluk dan orang-orang beriman. Seperti cermin yang berhadapan dengan cermin lain, berkat-berkat terpantul dari Allah kepada Allah melalui manusia, yang pada akhirnya mengatasi ilusi otonomi individualnya dalam “permainan cermin” yang agung ini, di mana hanya kehadiran ilahi yang tetap ada.
Sifat Allah ar-Rahmân, Yang Maha Pengasih, adalah salah satu dari sembilan puluh sembilan nama Allah; sehingga asalnya sudah ada sebelum penciptaan itu sendiri, untuk kemudian terwujud sebagai sifat yang melekat pada dunia dan kehidupan, suatu sifat yang mengatur hubungan makhluk dengan Tuhannya serta hubungan di antara makhluk itu sendiri.
Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, rahmat adalah sifat yang Allah tetapkan bagi diri-Nya sendiri: “Katakanlah: ‘Kepada siapakah milik segala yang ada di langit dan di bumi?’ Jawablah: ‘Kepada Allah! Dia telah menetapkan rahmat bagi diri-Nya sendiri’”; “Dan apabila orang-orang yang beriman kepada tanda-tanda Kami datang kepadamu, katakanlah kepada mereka: ‘Salam sejahtera bagi kalian! Allah telah menetapkan rahmat bagi diri-Nya sendiri’” .
Oleh karena itu, rahmat adalah sifat ilahi, sebuah prinsip utama yang tidak terbatas pada manifestasi penciptaan maupun karakteristik keberadaan individu, dan tidak dapat disamakan atau direduksi menjadi perasaan manusiawi seperti belas kasihan atau empati. Meskipun rahmat juga bermanifestasi di semua tingkatan realitas ini, rahmat pada dasarnya adalah realitas ilahi, kemudian pancaran spiritual, dan akhirnya juga pertolongan yang murah hati yang datang dari Tuhan kepada hamba-hamba-Nya: Namun, hanya Dia yang mengetahui cara, waktu, dan penerima rahmat-Nya.
Rahmat Allah senantiasa hadir, bahkan ketika seseorang tampaknya sedang mengalami masa-masa sulit. Allah tidak pernah absen, Dia tidak jauh, dan Dia tidak lengah. Kebesaran rahmat ilahi sedemikian rupa sehingga melindungi makhluk-makhluk-Nya dari harapan mereka sendiri, dari pendapat mereka sendiri tentang apa yang mereka inginkan, dari permintaan-permintaan tak sadar mereka sendiri. Rahmat Tuhan semesta alam terkadang justru terwujud dalam bentuk tidak mengabulkan doa orang beriman atau memperlakukan hamba-hamba-Nya dengan ketegasan yang tampak: hanya Allah yang mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk bagi setiap makhluk-Nya.
Jika salah untuk menyamakan rahmat Allah dengan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan nyata atau khayalannya sendiri, sama salahnya pula jika terjebak dalam perspektif yang berlawanan dan hanya mengakui kasih ilahi dalam penderitaan atau kesulitan. Pandangan Islam — dan secara lebih umum, setiap pandangan keagamaan yang autentik — memang menolak dalam bentuk apa pun pemujaan emosional terhadap penderitaan, yang dicari sebagai tanda kasih sayang ilahi yang khusus.
Dalam kedua kasus tersebut, intinya adalah ketidakmampuan untuk melihat dan merasakan kehadiran, perbuatan, serta belas kasihan Allah dalam segala bentuknya: baik dalam suka maupun duka, dalam kemudahan maupun kesulitan, dalam kemakmuran maupun kemiskinan.
Rahmat Allah terwujud melalui tiga dimensi, yaitu iman, pengetahuan, dan rezeki, serta dalam keragaman agama yang merupakan hasil dari rangkaian Wahyu yang dianugerahkan oleh Tuhan.
Karunia iman adalah suatu perbuatan rahmat Allah kepada manusia. Sebuah karunia, tepatnya: suatu sikap kemurahan hati Allah terhadap makhluk-Nya. Dalam perspektif yang lebih tinggi dan lebih sesuai dengan kenyataan, iman tidak melibatkan pilihan manusia, melainkan penerimaan atas kehendak ilahi. Kita tidak memilih secara individu dan mandiri untuk beriman; kita menerima anugerah ilahi berupa iman. Kata “islam”, di samping makna-makna lainnya, memiliki arti utama “penerimaan” dan merujuk pada “penyerahan diri kepada Allah dalam kedamaian”.
Syahadat, yaitu pengakuan iman dalam Islam, merupakan rukun pertama agama ini dan berbunyi: Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya. La ilaha illa Allah, Muhammad rasulullah. Ini merupakan suatu bentuk iman dan pengetahuan. Makhluk-makhluk mengakui kebenaran — mereka melihat, seolah-olah, kesatuan ilahi dan suksesi kenabian hingga utusan terakhir, Muhammad ﷺ —, dan akhirnya bersaksi atas apa yang mereka lihat. Iman memang merupakan tingkat pertama dari pengetahuan supra-rasional dan merupakan suatu antisipasi, penglihatan melalui tabir yang diminta oleh orang-orang beriman kepada Allah agar dapat mereka saksikan sepanjang hidup mereka, untuk akhirnya memahami dengan jelas keindahan dan keagungan-Nya.
Kemurnian iman mendorong seorang Muslim untuk menyingkirkan keburukan-keburukan yang timbul dari egoisme dan kekafiran, serta bertindak dengan semakin membuka diri terhadap kehendak Allah. Dengan demikian, orang beriman menyadari identitas keagamaannya yang sejati dan mengambil inspirasi darinya untuk mengelola tanggung jawab hariannya dengan adil. Identitas seorang Muslim sesungguhnya terletak pada penerimaan kehendak Allah, suatu realisasi yang dapat terwujud melalui proses penyucian imannya kepada Allah dan ketaatannya pada teladan Nabi Muhammad ﷺ.
Dimensi iman sama sekali tidak sejalan dengan bentuk fatalisme pasif dan berada di kutub yang berlawanan dengan ketenangan diri. Memang, tugas para pria dan wanita adalah melaksanakan ibadah kepada Yang Maha Pengasih yang dapat mengangkat mereka ke derajat ’ibâd ar-Rahmân, hamba-hamba Yang Maha Pengasih. Justru pengabdian yang saleh dan berbudi luhur inilah yang membuka bagi orang beriman manfaat partisipatif dan kognitif dari hubungan yang konstan dan sadar dengan rahmat ilahi.
Ketika akal budi manusia bertentangan dengan akal budi ilahi, ia tidak pernah benar. Ketika akal budi manusia mengikuti akal budi ilahi, ia selalu benar. Agar benar, akal harus diterangi oleh iman. Jika iman murni, akal akan berbicara dengan jelas dan cerdas. Jika iman dikaburkan oleh kelupaan akan Allah atau ketidakpatuhan terhadap ajaran para nabi, akal menjadi kabur dan menunjukkan ambiguitas tertentu.
Ini bukanlah soal fideisme, melainkan upaya untuk menyatukan iman dengan akal budi. Iman, pada kenyataannya, jauh dari sekadar keyakinan sentimental, sederhana, dan menghibur — warisan kekanak-kanakan dari umat manusia yang mungkin segera dapat melepaskannya —, justru identik dengan tingkat pertama dari dimensi intelektual. Oleh karena itu, iman sudah merupakan bentuk pengetahuan yang lebih tinggi daripada yang berasal dari rasionalitas individu dan setara dengan titik pertemuan antara akal dan intelektual. Menurut perspektif tradisional, akal dan intelektual bukanlah hal yang sama: sementara akal tetap merupakan kemampuan manusia yang bersifat pribadi dan terbatas secara individual, intelektual adalah partisipasi dalam suatu mode pengetahuan yang supra-pribadi, supra-rasional, dan universal. Partisipasi ini dimungkinkan oleh status ontologis manusia, yang diciptakan ‘alā sûratihi, sesuai dengan bentuk ilahi. Justru kesesuaian dengan Tuhan semesta alam inilah yang memungkinkan orang-orang beriman yang saleh untuk memuat, dengan meningkat, ilmu tentang Allah.
Iman tidak berarti irasionalitas, melainkan supra-rasionalitas.
Intinya adalah bagaimana menjalani iman yang diterangi oleh akal budi dan akal budi yang diterangi oleh iman, tanpa adanya pemisahan maupun kebingungan. Iman dan akal budi memang, bagi setiap orang beriman, merupakan dimensi-dimensi yang saling melengkapi dan tak terpisahkan dari sifat manusia — meskipun merujuk pada ranah-ranah yang saling tak sebanding —, dimensi-dimensi yang perlu digali dan disempurnakan demi partisipasi yang lebih bermakna dalam perkembangan spiritual dan material umat manusia. Penghormatan terhadap karakteristik khusus iman dan akal merupakan landasan penghormatan terhadap semua orang beragama dan setiap makhluk. Sifat iman memang menginspirasi manusia untuk memandang Tuhan, sedangkan tujuan akal budi manusia adalah belajar hidup di dunia ini dengan mengikuti aturan-aturan kecerdasan.
Aspek lain dari rahmat ilahi yang terwujud dalam iman adalah pentingnya agama. Memang, tidaklah cukup hanya dengan mengakui diri sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan memiliki iman tanpa mempraktikkan salah satu agama yang telah Dia wahyukan. Iman bukanlah pendapat abstrak, gambaran mental, pengakuan prinsip, atau rumusan verbal; sebaliknya, iman melibatkan keterikatan aktif pada Wahyu Ilahi dan merupakan awal dari transformasi ontologis. Iman menuntut sebuah perjalanan mendekati Allah yang hanya dapat diselesaikan berkat sarana-sarana ilahi dari agama-agama, yang—seperti yang ditunjukkan oleh etimologi kata religio itu sendiri, dari bahasa Latin religare, “menghubungkan”—memiliki fungsi khusus untuk mengarahkan makhluk-makhluk kepada Tuhan mereka; sarana-sarana ini terutama berupa ritus-ritus yang memungkinkan pengaruh Roh Kudus, yang diperlukan untuk transformasi pria dan wanita.
Beriman kepada Allah Yang Maha Esa tidak berarti bahwa hanya ada satu agama yang sah — agama yang dianutnya —, dengan mengesampingkan agama-agama lain. Allah itu Maha Esa dan tidak ada yang memiliki keesaan-Nya kecuali Dia; namun dalam kekuasaan-Nya yang mutlak dan rahmat-Nya, Dia telah menetapkan adanya berbagai agama, yang semuanya sah dan berfungsi bagi anggota komunitas masing-masing. Koeksistensi berbagai agama dan komunitas pemeluk agama adalah perwujudan kehendak Allah, yang telah menganugerahkan kepada makhluk-makhluk-Nya yang beragam berbagai cara untuk mencapai keselamatan dan banyak disiplin spiritual, semua efektif, asalkan orang beriman bersedia mempraktikkannya dengan tulus, dengan sepenuhnya menghormati ajaran dan ortodoksi ritual agama mereka sendiri, serta tanpa kebingungan atau sinkretisme.
«Manusia pada awalnya merupakan satu umat, lalu Allah mengutus para Nabi sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan bersama mereka-Nya Dia menurunkan Kitab Kebenaran untuk memutuskan di antara manusia mengenai hal-hal yang menjadi perbedaan di antara mereka.» “Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kalian satu umat, tetapi Dia menguji kalian dengan apa yang telah Dia berikan kepada kalian. Maka berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan. Kalian semua akan kembali kepada Allah, dan Dia akan memberitahukan kepada kalian mengenai hal-hal yang menjadi perbedaan di antara kalian.” “Hendaklah di antara kalian ada suatu umat yang mengajak kepada kebaikan, menegakkan keadilan, dan melarang kezaliman. Mereka itulah yang akan beruntung.” Dari pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an ini, tergambar perkembangan sejarah komunitas: pada awalnya, semua manusia adalah “satu komunitas”. Ini adalah komunitas primordial, yang mewakili manusia-manusia pertama yang merasakan emosi suci akan kehidupan dan kehadiran di bumi sebagai penemuan pengetahuan yang terus-menerus, serta setiap pengalaman baru sebagai kesempatan tak terhingga untuk menyadari keajaiban ilahi yang terulang setiap saat. Kemerosotan bertahap yang dialami oleh komunitas pertama ini kemudian membuat makhluk-makhluk tersebut menyamakan tanda-tanda Allah dengan hakikat-Nya, serta keindahan dunia dengan kenangan akan Allah, hingga akhirnya terjerumus ke dalam penyembahan berhala.
Oleh karena itu, rahmat Allah telah menetapkan untuk mengutus ke bumi sederetan “nabi, rasul, dan pemberi peringatan” yang, atas kehendak-Nya, telah menjaga disiplin spiritual sekaligus mendorong berkembangnya komunitas-komunitas ke dalam berbagai kelompok agama. Panggilan para utusan yang menginspirasi berbagai komunitas agama hanyalah untuk mengarahkan orang-orang beriman menuju kebenaran dengan memungkinkan mereka membedakannya dari yang palsu, untuk memperbarui ingatan akan pelayanan kepada Allah dan bukan kepada manusia, ingatan akan tanggung jawab di dunia ini demi kehidupan di akhirat, serta ajakan untuk mempraktikkan kebajikan spiritual dan bukan keburukan pribadi.
Rangkaian para nabi sejak awal mula hingga saat ini — mulai dari manusia pertama, Adam, hingga Penutup para Nabi, Muhammad ﷺ — memberikan kepada umat manusia ajaran ilahi, yang memungkinkan untuk memahami keberadaan mereka yang bersedia menerimanya dalam dimensi dan perspektif yang lebih luas dan mulia. Sebuah perspektif yang berangkat dari keyakinan iman, keyakinan yang teguh akan keajaiban kehadiran spiritual yang melampaui diri kita dan yang, pada saat yang sama, hadir dan berperan dalam kehidupan kita.
Kesatuan misterius dari kehadiran spiritual ini, yang menghubungkan sekaligus membedakan transendensi dan imanensi, identik dengan realitas Tuhan Yang Maha Esa yang menjadi sumber inspirasi bagi setiap komunitas keagamaan. Di sekitar poros ilahi ini, yang menghubungkan dunia-dunia seperti mutiara pada kalung, berkembanglah berbagai interpretasi teologis, doktrinal, dan dogmatis, serta nuansa-nuansa yang berbeda dalam tingkat ortodoksi dan ketaatan ritual yang bervariasi. Dengan demikian, setiap orang beriman dari komunitas mana pun dapat mencapai tingkat transparansi yang lebih atau kurang dalam kesalehan spiritual, sesuai dengan kesediaannya untuk mengikuti teladan para guru dan mewujudkan sintesis yang meningkat dari tanda-tanda Tuhan kepada Tuhan atas tanda-tanda, dengan karunia akal budi yang telah Tuhan berikan kepada setiap manusia.
Dimensi kebersamaan memang sangat penting untuk menjalankan agama dengan bijaksana: “Orang-orang beriman, baik laki-laki maupun perempuan, adalah sahabat dan saudara satu sama lain; mereka saling mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kejahatan, menunaikan shalat, membayar zakat, serta taat kepada Allah dan Rasul-Nya; mereka itulah yang akan dianugerahi rahmat oleh Allah; Dia Maha Kuasa, Maha Bijaksana.” Umat Islam saling mendukung dalam upaya memahami dan mengikuti kehendak Allah di setiap tahap kehidupan mereka. Nasihat, pengajaran, peringatan, dan kesaksian yang diilhami yang saling diberikan oleh orang-orang beriman membantu semua anggota komunitas untuk mempertahankan arah dan terus berjalan di “jalan yang lurus”. Berkat empati persaudaraan di antara para mukmin dan mukminah dari setiap komunitas agama, manusia pun kembali menemukan kemampuan untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk serta mengabdikan hidupnya di dunia ini melalui perbuatan ibadah dan rasa syukur, kedermawanan, solidaritas, dan cinta.
Dalam Islam, cinta merupakan tingkatan yang lebih rendah dari Rahma, bagian dari rahmat Sang Pencipta, serta bagian dari teladan Nabi. Cinta adalah disiplin suci, dinamika pengetahuan yang milik Allah dan bukan milik interpretasi bebas dan keliru manusia. Ini adalah maieutika seni ilahi untuk mendukung makhluk dan dunia dalam proses integrasi harmonis mereka ke dalam tatanan surgawi.
Cinta di antara makhluk-makhluk memang merupakan salah satu tanda terpancarnya kasih Allah kepada makhluk-makhluk-Nya; demikian pula persaudaraan rohani di antara orang-orang beriman, kerja sama di antara orang-orang yang bersyukur, kehadiran yang nyata, dan perhatian yang tulus terhadap orang-orang miskin dan yang membutuhkan, semuanya merupakan kesempatan untuk mempraktikkan aspek-aspek konkret dari rahmat Yang Maha Pengasih terhadap hamba-hamba-Nya yang terkasih. Adapun cinta orang-orang beriman kepada Allah, sebenarnya merupakan pancaran cinta Allah kepada diri-Nya sendiri: adalah tugas manusia untuk mewujudkan transparansi yang diperlukan agar cinta Allah dapat menjadikan mereka sebagai mata rantai yang diberkati dalam lingkaran suci yang berawal dan berakhir pada Allah.
Dari cinta di antara makhluk-makhluk pun timbul dialog, komunikasi fisik, psikis, dan spiritual, yang karenanya menjadi bagian dari sifat alami manusia, buah dari keturunan yang diberkati dari berbagai bangsa dan negara, budaya dan peradaban, yang memikul tanggung jawab spiritual untuk menghormati kehidupan di dunia bersama makhluk-makhluk lain yang berasal dari tempat yang sama atau berbeda, namun yang asal-usulnya bersatu dalam Tuhan yang sama, Pencipta langit dan bumi serta segala yang ada di antara keduanya.
Tujuan akhir dari dialog sejalan dengan kewajiban untuk saling mengenal, yang merupakan sarana untuk lebih memahami diri kita sendiri dan Tuhan kita. Justru melalui dialog dengan sesama — dalam interaksi alami dengan sesama makhluk ciptaan Tuhan, baik itu ayah atau ibu, saudara laki-laki atau perempuan, anak laki-laki atau perempuan, tetangga laki-laki atau perempuan — setiap orang memiliki kesempatan dan kewajiban untuk memanfaatkan peluang memperoleh pengetahuan baru, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, yang mampu mengukuhkan atau membantah beberapa pandangan mengenai realitas spiritual diri sendiri dan dunia.
Keragaman agama dan makhluk hidup memang tidak dapat membenarkan sinkretisme, relativisme, maupun konflik yang bersifat kompetitif. Tidak ada agama yang lebih tinggi atau lebih baik daripada yang lain, karena setiap agama yang sejati merupakan jalan spiritual yang kaya akan segala sarana yang berguna bagi keselamatan atau pencerahan orang beriman, di mana pun di dunia ini dan pada masa sejarah apa pun. Agama-agama pada dasarnya sempurna, karena berasal dari Tuhan. Sebaliknya, merupakan tanggung jawab kejujuran seorang beriman untuk memanfaatkan sarana-sarana tersebut secara tepat dan maju di jalan lurus agamanya sendiri dengan memanfaatkan, dalam perjalanan yang saleh ini, bantuan-bantuan yang telah disiapkan oleh Tuhan — di antaranya dialog dan pertukaran pandangan antara orang-orang beriman dan makhluk-makhluk, para bijak dan guru dari agama yang sama maupun dari keyakinan lain.
Menganggap agama sendiri sebagai kebenaran mutlak adalah kesalahan besar. Agama, meskipun merupakan jalan yang diberkati dan penuh rahmat untuk kembali kepada Allah, tetaplah bersifat relatif di hadapan Dia yang Maha Mutlak, Allah. Para pemeluk agama tidak boleh mengembangkan keterikatan yang mendalam terhadap bentuk-bentuk sakral keyakinan mereka hingga melupakan sifat simbolisnya. Para pemeluk agama tidak boleh menyembah agama mereka sendiri, melainkan Allah — jika mereka tidak ingin terjerumus ke dalam bentuk penyembahan berhala yang halus namun juga berbahaya.
Kesalahan yang tak kalah seriusnya, sebenarnya, adalah merelatifkan, atas dasar psikologis, nilai absolut dari keyakinan kepada Tuhan yang dianut oleh para penganut agama yang berbeda-beda. Relativisme, pada kenyataannya, tidak sama dengan pluralisme, karena relativisme merampas nilai spiritual dari segala sesuatu, setiap agama, dan setiap simbol suci, dengan “merelatifkan ” segala sesuatu pada tingkat horizontal, tanpa kedalaman dan vertikalitas, dengan maksud untuk secara artifisial mereduksi berbagai aspek ilmu ilahi dan semua agama berdasarkan landasan historis atau antropologis, sehingga menghilangkan kesesuaiannya dengan sifat kerangka acuan mereka: yang suci dan aturan-aturannya.
Studi terhadap kitab-kitab suci dan kehidupan para utusan Allah yang beragam harus didasarkan pada pengakuan akan campur tangan khusus Roh Allah pada waktu dan tempat tertentu. Dengan demikian, akan mudah dipahami bahwa rahmat ilahi, selain menghasilkan manfaat yang tak terukur berupa jalan-jalan baru menuju keselamatan dan pengetahuan, juga merupakan bagian dari tatanan realitas yang kekal dan universal, yang karenanya tidak dapat dibatasi secara eksklusif pada bentuk-bentuk tertentu — baik itu sejarah maupun geografi suci —, maupun dianalisis lebih lanjut berdasarkan landasan sosial atau psikologis.
Inti spiritual dari ajaran Islam bergantung langsung pada kehadiran yang sakral di dunia ini, yang tidak dapat dikaitkan dengan konteks sejarah, karena hal itu merupakan perwujudan dari rahmat Ilahi. Rahmat Allah memang abadi dalam sifatnya sebagai sifat ilahi, dan mendasar, karena ia memancar ke seluruh alam semesta tanpa henti sejak awal mula waktu, sejak permulaan penciptaan. Ajaran tradisional diwujudkan dalam berbagai penerapan yang selalu beragam, terkait dengan perubahan keadaan, namun tetap tak berubah dalam esensinya, yang berada dalam ilmu ilahi dan melampaui kategori-kategori sejarah.
Intinya adalah belajar untuk berkomitmen atas nama Allah, bukan atas nama diri sendiri, dengan menempatkan objektivitas providencial dari sejarah suci dan tradisi kita sendiri dalam perspektif yang tepat di hadapan keabsolutan Allah, serta dengan penuh perhatian dan kepekaan berusaha memahami ajaran-ajaran yang ingin disampaikan Tuhan dalam belas kasih-Nya yang tak terbatas, termasuk melalui dialog dengan saudara seiman atau yang berbeda keyakinan.
Agar komunikasi dapat berjalan efektif, diperlukan niat yang jelas mengenai tujuan dialog, yang selain memfasilitasi pemahaman yang lebih mendalam, harus secara khusus menghasilkan kesalehan spiritual yang lebih besar — suatu kualitas yang membedakan para bijak sejati dari setiap tradisi dan yang mencerminkan tingkat kedekatan serta kemuliaan spiritual yang dicapai di hadapan Allah. Justru kehadiran para bijak yang dapat dijangkau inilah yang akan menjamin kualitas dan kegunaan dialog yang benar-benar religius, tanpa membiarkan kesombongan atas kompetensi doktrinal yang semu atau beberapa kemampuan dialektis dan filosofis mendominasi.
Maka, yang dimaksud di sini adalah berdialog bukan sekadar untuk mengikuti ajakan kemanusiaan, atau untuk menentang kecenderungan politik sekuler dan materialis, melainkan untuk memperbarui tatanan “dialog demi Allah”, di mana para bijak mampu menyimpulkan dan menerapkan dalam kehidupan kesesuaian-kesesuaian terkini dari prinsip-prinsip doktrinal tertentu, demi praktik spiritual dan material tidak hanya bagi umat mereka sendiri tetapi juga bagi umat agama lain.
Tanpa terjebak dalam kesalahan sinkretisme, para bijak tersebut ingin menekankan nilai spiritual dari setiap pesan dan setiap utusan, dengan menonjolkan dimensi universal dari karunia ilahi; yang, meskipun pada saat turunnya telah memicu perubahan arah tradisional bagi sebagian bangsa ke dalam bentuk keagamaan baru, tanpa ragu telah menyampaikan manfaat spiritual kepada semua bangsa lain yang, pada saat yang sama, termasuk dan terus termasuk dalam bentuk-bentuk keagamaan lainnya.
Setiap Wahyu baru memang memberikan manfaat metodologis juga bagi mereka yang tidak secara resmi mengikutinya, namun tetap mengakui nilai ilahinya, dengan mendorong umat dari Wahyu-wahyu sebelumnya untuk melakukan pembaruan spiritual yang menjaga vitalitas asli agama mereka sendiri. Munculnya agama Kristen tidak diragukan lagi telah menghidupkan kembali vitalitas spiritual agama Yahudi, sama seperti Wahyu Islam telah mendorong pembaruan aspirasi spiritual umat Yahudi dan Kristen. Sungguh, selalu Allah yang kembali berbicara kepada manusia pada setiap Wahyu baru, memanggil mereka kepada-Nya.
Berbagai perspektif teologis yang terdapat dalam berbagai Wahyu merupakan bagian dari rencana ilahi dan harus dihormati serta diajarkan dengan tujuan untuk memahami saling melengkapi yang mendalam di antara perspektif-perspektif tersebut, dengan memanfaatkan ketegangan metafisik yang timbul dari pertemuan berbagai aspek Tuhan yang Esa, yang—agar dapat dihayati dan agar kita dapat melihat sekilas kesatuan-Nya yang transenden—menuntut upaya dari para pemeluk agama untuk mampu melihat melampaui bentuk-bentuknya. Lagipula, realitas Tuhan yang tak bersyarat tidak dapat dibatasi pada rumusan verbal. Sebagaimana setiap bahasa menggunakan kata-kata yang berbeda untuk merujuk pada makna yang sama, demikian pula agama-agama menggunakan bentuk-bentuk yang berbeda dan tampaknya saling bertentangan untuk merujuk pada Tuhan yang sama dan satu-satunya, yang kata-kata dan bentuk-bentuk tersebut hanya mampu diungkapkan secara simbolis.
Memang, bukan hanya bentuk-bentuk yang terungkap yang tampak saling bertentangan. Sebaliknya, dalam seluruh realitas yang termanifestasi, pertentangan-pertentangan yang tampak seperti itu saling berhadapan, dan semuanya memaksa kita untuk melihat kesatuan realitas yang lebih mendalam, dengan mengangkat diri kita melampaui kehidupan biasa dan konvensional. Hanya Tuhanlah yang merupakan Kebenaran, dan Kebenaran ini tidak dapat dikaitkan dengan bentuk-bentuk providencial yang diperlukan yang telah Dia tetapkan untuk menuntun manusia menuju keselamatan dan pengetahuan.
Menurut ajaran Islam, segala sesuatu yang terlihat maupun tak terlihat, yang statis maupun dinamis, merupakan tanda dari Allah, tanda dari Sang Pencipta Yang Maha Esa dari langit dan bumi serta segala yang ada di antaranya. Penyebab utama keberadaan segala sesuatu terkait dengan kehendak Allah untuk “ingin dikenal”. Keinginan-Nya untuk mengetahui dan mengenali diri-Nya sendiri dalam cerminan manifestasi-Nya merupakan landasan cinta yang dijalani oleh seorang Muslim dalam upayanya untuk memenuhi keinginan akan pengetahuan tersebut. Ini adalah dinamika penuh rahmat antara pengetahuan dan cinta, di mana Allah mengenal dan mencintai diri-Nya sendiri dalam cerminan-Nya, dalam ciptaan-Nya, dan dalam makhluk-makhluk-Nya. .
Untuk memperkuat iman agama — yang merupakan landasan utama pengetahuan suci —, Allah memperlihatkan tanda-tanda-Nya dan keajaiban penciptaan yang terus diperbarui setiap saat. Melalui kontemplasi terhadap Allah dan tanda-tanda-Nya, serta melalui meditasi atas simbol-simbol dan dinamika penciptaan, setiap Muslim membuka diri untuk mengakui keesaan Allah dalam keuniversalan penciptaan. Tanda-tanda Allah di dunia ini tak terhingga, beragam, dan terus berubah, namun semuanya merupakan bagian dari keuniversalan dan maieutika Allah, yang secara ajaib menyadarkan makhluk-makhluk yang peka akan keragaman bentuk ciptaan dan kesatuan esensial Sang Pencipta. Dengan demikian, umat Islam membuka diri untuk mengakui asal usul tunggal dari keragaman yang tersebar di dunia dan kehadiran Allah yang tak terukur dalam setiap aspek, tempat, dan saat dari manifestasi-Nya.
Islam mendorong manusia untuk meninjau kembali keberadaannya sendiri dari sudut pandang yang murni kognitif, di mana, berdasarkan pengalaman hidup dan pelaksanaan tugasnya sebagai hamba serta wakil Allah di dunia, ia dapat belajar dengan kerendahan hati dan martabat untuk lebih mengenal diri sendiri; sebab, sebagaimana disebutkan dalam tradisi kenabian lainnya, “barangsiapa mengenal dirinya sendiri, ia mengenal Tuhannya.”
Berdasarkan pertimbangan terakhir ini, kita dapat menyadari sejauh mana Allah berkehendak mengangkat derajat manusia, dengan menempatkannya di pusat alam semesta yang telah Dia ciptakan dan memberinya kemampuan untuk mengenal keanekaragaman ciptaan-Nya, yang tidak lain adalah cerminan dari rahmat-Nya yang tak terbatas, Rahmat Allah.
Memang, kesempatan yang diberikan Allah kepada seluruh umat manusia untuk mencapai pengetahuan universal yang sama seperti yang telah disampaikan kepada kita oleh Nabi Muhammad ﷺ sejalan secara tepat dengan kesetiaan terhadap Sunnah-Nya serta aspirasi untuk meneladani beliau, sehingga kita semakin mendekati tingkatan kesempurnaanInsân al-Kâmil, Manusia Universal. Dalam hal ini, setiap Muslim dipanggil untuk bertindak berdasarkan pemahaman yang semakin mendalam akan perannya sendiri, dengan menjadi saksi, mushâhid, atas kebenaran yang terkandung dalam rukun Islam yang pertama, yaitu syahadat, pernyataan iman: lâ ilâha illâ Allah Muhammad rasûl Allah, “tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya”.
Persis dengan cara inilah cahaya kenabian, al-nûr al-Muhammadiyya, memancarkan kehadirannya yang menerangi segala sesuatu, membuka mata kita terhadap kenyataan kehadiran Allah di mana kita berada dan yang membentuk diri kita. Bagi mereka yang melihat dan menyadari kehadiran ini berkat keterbukaan terhadap cahaya kenabian, segala sesuatu dan setiap saat turut menjadi bagian dari keabadian pesan Islam yang diwahyukan.
Para mukmin memang tidak boleh hanya sekadar menganut pengakuan iman secara formal, melainkan harus mewujudkan dimensi Islam yang dijalani dalam kehidupan sehari-hari dan secara praktis; karena pengetahuan yang tidak tercermin dalam kehidupan bukanlah pengetahuan yang otentik, sama seperti gelas yang penuh tidak dapat menghindari tumpah, sehingga memperlihatkan keaslian kepenuhannya. Oleh karena itu, kehidupan orang-orang beriman harus menjadi cerminan keislaman mereka, iman mereka, pengetahuan mereka, serta realisasi ontologis dari syahadat.
Pria ini akan mampu mewujudkan dan menafsirkan keharmonisan serta kedamaian di bumi sesuai dengan sifat sejati umat manusia dan dunia. Kesaksiannya tidak akan pernah mengenai utopia “surga di bumi”, melainkan mengenai sifat sejati surga dan bumi, dan terutama ilmu ilahi yang tak terukur untuk mencapai surga dengan menghormati keberadaan di bumi.
Perubahan dunia bergantung langsung pada karya rahmat Ilahi, yang bekerja dengan memperbarui tatanan penciptaan melalui jiwa-jiwa yang telah dimurnikan dari mereka yang mampu mengubah diri sendiri sebelum mengubah nasib suatu bangsa, sebagaimana diajarkan dalam Al-Qur’an. Mereka adalah orang-orang yang telah mampu mengarahkan kembali kepekaan spiritual mereka kepada Allah dan menyesuaikan gerak-gerik jiwa mereka dengan “sifat-sifat Yang Maha Pengasih”.
Namun, dalam hal ini yang dimaksud bukanlah individu yang rasional, melainkan Manusia Universal, yaitu manusia yang dipandang dari dimensi spiritualnya dan mampu menampung kehadiran Tuhan yang menguduskan.
Prinsip lain yang sangat menonjol dalam ajaran Islam adalah kesucian kehidupan. Manusia, memang, diciptakan‘alâ sûrat ar-Rahmân, yaitu “menurut rupa Yang Maha Pengasih”: ungkapan ini menegaskan tanggung jawab khusus manusia sebagai wakil Allah di bumi, yang dipanggil untuk mengamalkan rahmat terhadap seluruh ciptaan dan, terlebih lagi, terhadap komunitas orang-orang beriman dari wahyu-wahyu lain yang telah Allah nyatakan, tepatnya berdasarkan kekuasaan-Nya yang maha kuasa. Kehidupan manusia itu suci karena berasal dari Allah, yang telah menganugerahkannya kepada makhluk-makhluk-Nya agar mereka dapat menggunakannya dengan kebijaksanaan dan disiplin untuk mencari pengetahuan-Nya, sebagaimana telah dilakukan oleh semua orang suci Allah sejak awal mula hingga saat ini.
Islam memang mencakup seluruh komunitas orang-orang beriman sejati sejak zaman Adam, manusia pertama dan Nabi Islam pertama, hingga utusan terakhir, Muhammad ﷺ, yang merupakan Penutup para Nabi. Oleh karena itu, Islam merupakan perwujudan terakhir dari tradisi yang tak berubah atau aksial, yaitu dîn al-qayyima, yang telah ada sejak awal mula dunia dan identik dengan aspek imanen dari kebenaran. Semua tradisi yang Allah kehendaki untuk diwahyukan merupakan manifestasi, pada waktu dan tempat yang berbeda-beda, dari tradisi primordial ini, dan karenanya memiliki esensi yang tunggal.
Mengenai kesatuan esensial dan persaudaraan yang mendalam di antara wahyu-wahyu, utusan-utusan ilahi, dan komunitas-komunitas keagamaan, tradisi Islam mencatat sebuah ajaran Nabi Muhammad ﷺ kepada para Sahabatnya: “Di antara semua manusia, aku adalah orang yang paling dekat dengan Isa putra Maryam di dunia ini dan di akhirat.” “Dalam arti apa, wahai Utusan Allah?” tanya mereka kepadanya. “Para Nabi itu seperti saudara dari ayah yang sama, tetapi ibu yang berbeda. Agama mereka adalah satu. Tidak ada Nabi di antara Isa dan aku.”
Misi Nabi Muhammad ﷺ, yang dijuluki “Mauterai Kenabian”, juga sarat dengan makna eskatologis yang mendalam. Beliau memang merupakan utusan Allah yang terakhir sebelum Hari Kiamat. Nabi ﷺ mengingatkan para Sahabatnya — dan mengingatkan semua orang beriman, hingga akhir zaman — akan kedekatan dan kedekatan eskatologi melalui kata-kata ini: “Kami telah diutus, aku dan Hari Kiamat, seperti ini” — dan saat ia berbicara, ia memberi isyarat dengan dua jari yang disatukan.
Dan justru dalam penantian akan penghakiman itu, akan hari terakhir ketika semua makhluk akan dipanggil untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka, hubungan dengan rahmat memperoleh makna yang definitif. Tanpa janji akan putusan akhir ini, timbangan keadilan antara konsistensi dan ketidakpedulian, antara ketaatan dan ketidaktaatan, antara kebaikan dan kejahatan yang dilakukan oleh manusia selama hidup mereka di bumi, rahmat mungkin memiliki makna yang berbeda.
Oleh karena itu, umat Islam diwajibkan untuk menjalani ketegangan eskatologis yang bersifat spiritual, dengan kesadaran bahwa setiap hari bisa jadi adalah hari terakhir, dan setiap jam bisa jadi adalah jam terakhir. Tentu saja, ini bukan berarti terjebak dalam millenarisme emosional dan fanatik yang mengklaim dapat “memberikan angka-angka”, melupakan bahwa tidak ada yang mengetahui waktunya kecuali Tuhan Pemilik Waktu. Sebaliknya, ini berarti menjalani setiap detik dalam hidup seolah-olah itu adalah detik terakhir sebelum bertemu dengan Yang Maha Pengasih, dan karenanya, mencari manfaat spiritual maksimal setiap saat dan, pada akhirnya, kesempurnaan ilahi.
Keyakinan atau harapan akan rahmat-Nya memberi harapan bagi para mukmin untuk dapat merasakan kehadiran rahmat yang abadi di kehidupan akhirat. Sebaliknya, hukuman kutukan yang mengurung jiwa dalam kegelapan dan siksaan api neraka adalah nasib bagi mereka yang tidak layak untuk bertemu dengan Yang Maha Pengasih.
«Dan Kami telah mengutusmu sebagai rahmat bagi seluruh alam.» «Dan katakanlah: “Ya Tuhanku! Ampunilah dan berilah rahmat. Engkaulah Yang Paling Penyayang.”» . Kutipan-kutipan ini dikomentari oleh para ulama untuk mengingatkan fungsi perantara yang akan diemban Nabi ﷺ pada akhir zaman bagi seluruh alam semesta dan bagi umat beriman yang telah mampu mengikuti secara Islam penerimaan yang otentik dan utuh atas kehendak Allah semata dalam mewujudkan kedamaian batin dan lahiriah. Bagi para mukmin ini, beliau akan menjadi perantara rahmat pada Hari Kiamat.
Manusia adalah alat sekaligus penerima karunia dan rahmat Allah yang memberinya kehidupan.
Tuhan tidak membatasi penyebaran rahmat-Nya hanya pada anugerah kehidupan. Sesungguhnya, di dunia ini, manusia menemukan rezeki yang memungkinkannya untuk mengolah bumi dan memuliakan Penciptanya.
Hasil bumi memang merupakan anugerah dari Tuhan dan membawa tanggung jawab pengelolaan yang telah dipercayakan Tuhan kepada setiap manusia. Dengan mengonsumsi hasil bumi tersebut, setiap makhluk membuka diri terhadap pengetahuan dan kesadaran akan nilai bumi dan langit, lingkungan, serta siklus penciptaan.
Rezeki yang diberikan Allah kepada makhluk-Nya bukanlah sekadar pemenuhan kebutuhan fisik, melainkan pemberian sumber daya rohani yang disalurkan melalui makanan dan minuman. Dengan demikian, orang-orang beriman, melalui makanan dan minuman, memakan dan meminum berkat-berkat tersebut.
Oleh karena itu, bagi para pemeluk agama, penting untuk menjalani proses penyampaian ini dengan penuh hormat dan pengendalian diri, rasa sakral, tanpa terbawa oleh dorongan rasa lapar atau haus yang seringkali berisiko menimbulkan kebiasaan makan berlebihan, keserakahan, kebiasaan buruk dalam hal makanan, serta keserakahan dan kekikiran, bahkan pengerasannya hati.
Tujuan utama makanan di dunia ini, menurut Nabi, adalah untuk mengenyangkan perut dan kenikmatan rasa, demi ibadah kepada Allah.
Rasa syukur atas rezeki dari Allah, yang selalu melimpah dan sangat sesuai dengan kebutuhan sesungguhnya bagi orang yang merindukan Tuhannya.
Mengucapkan nama Tuhan sebelum minum atau memulai makan, sama halnya dengan mengucap syukur kepada-Nya, merupakan wujud dari ingatan dan rasa syukur atas karunia yang diberikan Tuhan kepada kita berupa rezeki yang memungkinkan kita untuk beraktivitas dan hidup.
Rahmat Ilahi tidak dapat disederhanakan hanya sebagai kepedulian terhadap mereka yang membutuhkan, yang rentan, dan yang miskin.
Kita harus menghormati orang-orang yang rendah hati dan membantu orang-orang miskin yang tidak memiliki harta benda, tetapi kita tidak boleh menyamakan yang pertama dengan yang kedua, serta membenci mereka yang memiliki harta dengan mengkategorikan mereka sebagai orang-orang kikir.
Atas rahmat-Nya, tugas kita adalah mendampingi para mukmin menuju Kerajaan Surga, dan bukan sekadar dalam urusan-urusan dunia yang fana ini.
Jika kita tidak mengakui keampuhan nyata dari pengaruh rahmat dalam ritus dan persembahan dari sudut pandang metafisik kehidupan, hal itu berisiko mereduksi tindakan keagamaan menjadi sekadar bantuan sosial yang pragmatis—suatu ekstrem yang berlawanan dengan dogmatisme, namun tidak kalah menyimpang dari yang sebelumnya.